100 Tahun Kebangkitan Nasional

100 Tahun Kebangkitan Nasional: Masyarakat Sejarah Usulkan Survey Sikap Anak Bangsa terhadap Makna Kebangkitan Nasional

Jakarta- Masyarakat Sejarah Indonesia (MSI) mengusulkan kepada pemerintah (Departemen Kebudayaan dan Pariwisata) untuk melakukan survey mengenai sikap anak bangsa terhadap makna kebangkitan nasional dalam kaitannya dengan praktik kehidupan sosial dan politik dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

“Hasil survey tersebut dapat menjadi dasar yang berguna untuk memahami tingkat kesadaran sejarah bangsa,” kata Prof.DR. Susanto Zuhdi, Ketua I Masyarakat Sejarawan Indonesia dalam diskusi panel pada acara Rapat Koordinasi Nasional Kebudayaan dan Pariwisata (Rakornas Budpar) 2008 yang berlangsung di Hotel Borobudur Jakarta, Kamis (17/1).

Usulan survey tersebut dilakukan dalam rangka menyambut peringatan `100 Tahun Kebangkitan Nasional`, di mana momentum tersebut telah ditetapkan oleh pemerintah sebagai Tahun Kunjungan Indonesia (Visit Indonesia Year/VIY) 2008 dengan menggelar lebih 100 event di antaranya berupa atraksi budaya.

Menurut Susanto, terkait dengan peringatan `100 Tahun Kebangkitan Nasional` perlu diciptakan program simposium kesejarahan Indonesia-Malaysia dengan pendekatan budaya bertema “Mempertautkan Kembali Akar-akar Sejarah yang Merupakan Simpul-simpul Perekat Kedua Bangsa”. Simposium ini merupakan upaya dalam membangun `jembatan sejarah` (historical brigde) suatu bagian yang lebih luas dalam kerangka `jembatan budaya` (cultural brigde) yang mempertemukan kalangan sejarawan dari Malaysia dan Indonesia untuk melacak kembali akar-akar sejarah dan benang merah yang pernah merajut kedua bangsa.

“Dalam penjajakan yang dilakukan ketua MSI, DR. Mukhlis PaEni, yang juga menjabat sebagai Dirjen Nilai Budaya, Seni dan Film (NBSF) Depbudpar dengan pengurus Persatuan Sejarawan Malaysia beberapa waktu lalu di Kualalumpur Malaysia, membuahkan kata sepakat awal untuk mengadakan simposium tersebut.. Simposium pertama tahun 2008 dirancang diadakan di Indonesia (Batam atau Pontianak), tahun berikutnya 2009 di Malaysia,” katanya.

Dikatakan, terkait dengan peringatan “100 Tahun Kebangkitan Nasional” idealnya dapat diselenggarakan simposium dengan melibatkan peserta dari negara-negara Asia-Afrika, yang dalam sejarah pernah tertanam semangat `Dasa Sila Bandung` tahun 1955. “Mangingat waktu yang sempit, kegiatan simposium dapat dibuat dengan tetap mengangkat substansi hubungan Indonesia dengan negara-negara tersebut atau diperluas dengan tema Indonesia dalam `Arus Sejarah Antarbangsa`,” katanya.

Sumber : www.budpar.go.id
Kredit foto : bp3.blogger.com

http://melayuonline.com/news/?a=TnFtdy91UGlaM1ZBY2E%3D=

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: